Siang di akhir Pebruari itu cukup cerah. Hanya sedikit awan yang tampak di atas langit Sibolga dan sekitarnya. Letih akibat perjalanan jauh dari Singkil ke Sibolga telah pula mereda, tapi ternyata flu dan batuk yang melanda badanku tak juga hilang. Ah, mau ke dokter tak kuasa aku, karena terkadang para ahli medis ini bukannya menyembuhkan, melainkan menjadikan badan kita uji coba diagnosanya saja. Terkadang berbekal vitamin C dan istirahat yang cukup saja, tubuh kita sudah mampu melawan penyakit begini.
Setelah menjemput bosku di bandara Pinangsori, perjalanan pun berlanjut ke daerah Marancar, sebuah cagar alam yang sudah masuk ke dalam wilayah tapsel. Jalan jelek kembali harus dilalui dan sedikit lebih mendingan di ruas jalan yang berada di wilayah tapsel. Kayaknya, jalur ini menjadi alternatif utama saat ini menuju ke padangsidempuan, karena dua alternatif lain (lewat tarutung maupun rantau prapat) kondisi jalannya sedang hancur-hancuran. Wajar sajalah, kan Jakarta saja beberapa waktu belakangan mengalami masalah yang serupa. Apalah lagi jalan di daerah yang jauh dari mata para penguasa negeri.
Simpang jalan menuju marancar berada sekitar 15 menit dari kota batangtoru ke arah padangsidempuan. Simpang ini kuperhatikan cukup ramai, dugaanku, cukup banyak perkampungan di dalamnya. Perjalanan semakin berat, aspal yang pernah melapisu jalan tak lagi tampak keberadaannya. Lubang-lubang besar mengangga menanti gardan ataupun as roda mobil yang kami sewa. Untung saja, hujan sudah cukup lama tak turun. Kalau tidak, tentu saja, akan sulit mendaki jalan yang mendaki dan licin.
Setelah hampir kurang lebih 20 km perjalanan dari simpang jalan negara, melewati kebun campur, persawahan, dan perkampungan, akhirnya kami tiba di sebuah punggung bukit yang menghadap ke jurang dan pegunungan yang indah. Istimewanya lagi. Kedatangan kami disambut teriakan kelempiau yang bersambung-sambungan. Kuperkirakan setidaknya ada 6 sampai 7 ekor kelempiau yang terlibat konferensi siang itu.
Dua orang menyambut kami dengan ramah. Ah, dasar anak rantau, masih saja kuperkenalkan diriku dengan nama kecilku, sementara mereka mengenalkan diri dengan marganya. Salah satunya bermarga siregar dan lainnya bermarga harahap. Kusesuaikan tuturku memanggil mereka dan memperkenalkan pula margaku serta menjelaskan ‘kerantauan’ku. Untunglah mereka maklum. Menurut mereka, di sekitar hutan itu masih sangat kaya akan kehidupan liar, seperti: harimau (yang kata mereka bermarga siregar, so juga adalah opungku.. hehehe), orangutan, babi hutan, beruang madu dan kelempiau. Tak jauh dari tempat itu, katanya ada sebuah span (tempat minum satwa), yang akan dengan mudah menjumpai beragam kehidupan lian. Pun, sebuah air terjun bertingkat tujuh yang layak untuk dikunjungi. Tapi, karena ada janji di sibolga. Berleha-leha di Marancar pun harus segera diakhiri. Bah, kerja lagi…..
Cagar alam Marancar merupakan sebuah bagian dari hutan batang toru blok barat, yang membentang diantara tarutung-sibolga-padangsidempuan dan merupakan habitat terakhir orangutan di tanah batak… hmmm…


April 4, 2008 pukul 10:21 am
Horas lae.. gimana kabarnya nih. Kalau boleh tau tujuan lae kemarancar dimana ya? memang sih lae, cagar alam marancar masih bagus dan masih perawan. tempat pariwisata juga banyak koq yang mempunyai potensi ditempat itu, contohnya aja aek sirabun, aek milas (air panas). Dekat air panas itu masih ada lho hewan langka yang dilindungi yaitu MAWAS (Beruang). Lae, balas ya ke email aku.
horas…
“Napitupulu Bersaudara” “v”