Setelah berjalan cukup jauh dari Medan, melalui jalan yang berliku membelah barisan bukit barisan, akhirnya sampai juga aku di kota kelahiran seorang pemikir Islam dahulu, Abdurrauf As Singkily. Karena tiba di hari yang menjelang malam, tak ada kegiatan lain yang dapat kukerjakan, selain mencari makan dan beristirahat. Menghilangkan penat setelah lebih dari 12 jam di dalam kendaraan. Sebuah hotel kecil, di pinggir sungai Singkil menjadi tempatku bermalam. Kabarnya, saat Tsunami melanda, hotel ini terendam cukup tinggi, walaupun kini tampak sudah sangat layak diinapi.
Pagi harinya, matahari muncul dari balik hutan rawa di belakang hotel tempat berminat. Karena kawan perjalananku tertarik melihat hutan rawa di seberang sungai, pagi itu kami berperahu menyeberang. Tak banyak memang, hutan yang tersisa. Sebagian besar pohonnya sudah ditebanging sebuah HPH pada 1980 sampai 1990-an. Pepohon yang ada pun, tampak taklah sehat. Banyak pohon-pohon besar yang mati. Khabarnya akibat Tsunami yang melintasi hutan itu.
Sebuah kanal buatan HPH yang menjadi alternatif ke muara, kami susurin. Puluhan burung berhamburan lari mendengar suara motor perahu kami. Tak ingin kehilangan momen ini, mesin perahu kami matikan dan meneruskan sisa perjalanan hanya dengan mendayung. Beberapa kali perahu kami karam, akibat tak terawatnya saluran kanal. Dan sang pengemudi perahu pun harus menceburkan diri, menarik perahu ke bagian yang lebih dalam. Burung-burung pantai, mangrove, dan pepohonan kering menemani perjalanan kami sampai ke ujung kanal.
Dahulunya, kanal ini tersambung ke laut, namun karena tak ada yang merawatnya, ia pun terputus hanya 50 meter dari pantai. Konon, saat dibeko (digali dengan menggunakan excavator) waktu pembukaannya, ditemukan ular sepanjang hampir 20 meteran di rawa ini. Lumpur di ujung kanal memang tak lah dalam, tapi lumayan juga jika terperosok ke dalamnya. Pastilah akan mengotori celana dan sepatu kita. Di balik pepohonan perdu di ujung kanal, terhampar pantai pasir putih. Pohon cemara laut memagari pantai pasir putih ini di beberapa tempat. Laut Samudera Hindia membentang di hadapan. Terkesan teduh. Pun hembusan angin yang melenakan.
Namun perjalanan harus kembali diteruskan. Kini, tiba saatnya memulai perjalanan menuju Sibolga, dengan menyusuri pantai barat Pulau Andalas…
Maret 21, 2008 pukul 5:28 am
Horas Lae,
Terus terang aku belum mengenal daerah-daerah di TapSel, namun cerita lae ini bikin aku penasaran. Kalo boleh tunjukan dong di peta dimana Singkil itu. Sumpah, aku jadi kepingin kesana
keliatannya seru…
Ian: Lae, singkil bukan di tapsel tapi di selatannya aceh, berada di ujung selatan baratnya aceh. kalo dari medan harus melintasi tanah karo, kemudian ke dairi dan pakpak, baru lah dapat daerah ini. aternatif lain bisa juga dicapai dari sibolga ke utara melewati barus…