Sipansipahora, sebuah manfaat langsung hutan

Maret 29, 2008 oleh amaniory

030.jpg

Daerah pandan, yang menjadi ibukota tapteng dan hanya 10 menit di dari sibolga, punya sebuah hotel yang cukup layak untuk dihuni, yakni Hotel Bumi Asri. Mungkin karena masih dalam tahap promosi, jadinya pelayannya agak kurang meyakinkan. Uniknya, di lobby hotel ini ada tujuh buah patung perempuan, yang semuanya dalam posisi menortor dan berselempangkan ulos dengan beragam motif. Berdasarkan seorang manager di hotel tersebut, ketujuh patung itu melambangkan ucapan selamat datang dan mewakili ketujuh orang boru (anak perempuan) dari sang pemilik hotel. Nah, di hotel inilah aku beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang dari singkil ke sibolga.

Pagi itu, atas izin dari Kepala PLN setempat, aku menemani seorang tamu yang tertarik mengetahui kondisi hutan tropis di sumatera, melihat-lihat hutan yang ada di sekitar pembangkit listrik tenaga air di sipansipahoras. Karena siang harinya ada beberapa jadwal pertemuan, akhirnya pagi-pagi sekali kami sempatkan menuju lokasi tersebut.

Perjalanan menuju kawasan tersebut sangat dekat dari pandan. Tak sampai 20 menit, kami sudah tiba di gerbangnya yang dijaga ketat. Rupanya informasi kedatangan kami sudah pula diinformasikan pada para penjaga, sehingga tak banyak halangan yang kami peroleh untuk memasuki kawasan yang sangat strategis ini. Maklumlah, pembangkit berkekuatan 50 MW ini merupakan salah satu pasok utama listrik untuk kawasan tapanuli.

Jalan yang berkelok-kelok dan  pemandangan begitu menakjubkan. Walaupun terkadang, ada rasa kekhawatiran pada diriku. Rasa takut ketinggian dan patahan aspal di beberapa tebing menjadi penyebabnya. Beberapa kali kutarik napas dalam-dalam menenangkan diriku. Untunglah, kendaraan yang kupergunakan cukup handal dan cuaca sangat cerah pagi itu, sehingga pemandangan yang menakjubkan menjadi obat penentram hati.

Sebelum sampai di DAM utama, kusempatkan mampir di sebuah lapangan luas yang menjadi hellypad. Ah, tamuku merengek ingin masuk ke dalam hutan. Dasar kampungan kali orang ini! Dipikirnya, akan mudah masuk ke dalam hutan tanpa peralatan yang memadai. Kubiarkan saja ia mencoba masuk ke dalam hutan, kusibukkan diri dengan memotret tanaman liar yang ada. Ups, kutemukan sebuah kantong semar yang cukup baik dan sekumpulan anggrek tanah di areal ini.

022.jpg015.jpg 012.jpg

Setelah puas gagal menembus kerapatan semak di bawah kanopi hutan, akhirnya tamuku mau meneruskan perjalanan. Akhir perjalananku adalah sebuah DAM besar yang menampung air untuk selanjutnya disalurkan ke turbin penggerak yang berjumlah dua buah. Hutan yang ada diperhuluan tampaknya masih cukup baik, walaupun dari petugas yang ada dikabarkan bahwa dulu pada tahap pembangunannya, masih ada upaya perambahan pada kawasan hulu DAM ini. Namun, berkat patroli rutin, sekarang gangguan yang ada sudah dapat dikendalikan.

Perambahan dan perubahan tegakan hutan yang ada diperhuluan DAM ini akan mengakibatkan kerugian yang besar. Tak hanya bagi negara dan masyarakat di sekitarnya, pun bagi masyarakat yang berada jauh dari kawasan ini. Krisis kelistrikan yang berlangsung di tapanuli dan sumatera bagian utara, tentunya akan menjadi semakin parah, jika pembangkit sipansipahoras ini tak dapat berfungsi dengan baik. Sedimentasi yang tinggi dapat mengakibatkan pendangkalan DAM. Sementara itu, kerusakan tegakan hutan dapat mengakibatkan tidak meratanya debit air yang ditampung dan dipasok pada turbin. Mudah-mudahan, semua pihak sadar akan pentingnya menjaga kawasan hutan di wilayah ini..

Marancar, cagar alam yang indah

Maret 21, 2008 oleh amaniory

marancar view

Siang di akhir Pebruari itu cukup cerah. Hanya sedikit awan yang tampak di atas langit Sibolga dan sekitarnya. Letih akibat perjalanan jauh dari Singkil ke Sibolga telah pula mereda, tapi ternyata flu dan batuk yang melanda badanku tak juga hilang. Ah, mau ke dokter tak kuasa aku, karena terkadang para ahli medis ini bukannya menyembuhkan, melainkan menjadikan badan kita uji coba diagnosanya saja. Terkadang berbekal vitamin C dan istirahat yang cukup saja, tubuh kita sudah mampu melawan penyakit begini.

Setelah menjemput bosku di bandara Pinangsori, perjalanan pun berlanjut ke daerah Marancar, sebuah cagar alam yang sudah masuk ke dalam wilayah tapsel. Jalan jelek kembali harus dilalui dan sedikit lebih mendingan di ruas jalan yang berada di wilayah tapsel.  Kayaknya, jalur ini menjadi alternatif utama saat ini menuju ke padangsidempuan, karena dua alternatif lain (lewat tarutung maupun rantau prapat) kondisi jalannya sedang hancur-hancuran. Wajar sajalah, kan Jakarta saja beberapa waktu belakangan mengalami masalah yang serupa. Apalah lagi jalan di daerah yang jauh dari mata para penguasa negeri.

Simpang jalan menuju marancar berada sekitar 15 menit dari kota batangtoru ke arah padangsidempuan. Simpang ini kuperhatikan cukup ramai, dugaanku, cukup banyak perkampungan di dalamnya. Perjalanan semakin berat, aspal yang pernah melapisu jalan tak lagi tampak keberadaannya. Lubang-lubang besar mengangga menanti gardan ataupun as roda mobil yang kami sewa. Untung saja, hujan sudah cukup lama tak turun. Kalau tidak, tentu saja, akan sulit mendaki jalan yang mendaki dan licin.

marancar view 2

Setelah hampir kurang lebih 20 km perjalanan dari simpang jalan negara, melewati kebun campur, persawahan, dan perkampungan, akhirnya kami tiba di sebuah punggung bukit yang menghadap ke jurang dan pegunungan yang indah. Istimewanya lagi. Kedatangan kami disambut teriakan kelempiau yang bersambung-sambungan. Kuperkirakan setidaknya ada 6 sampai 7 ekor kelempiau yang terlibat konferensi siang itu.

Dua orang menyambut kami dengan ramah. Ah, dasar anak rantau, masih saja kuperkenalkan diriku dengan nama kecilku, sementara mereka mengenalkan diri dengan marganya. Salah satunya bermarga siregar dan lainnya bermarga harahap. Kusesuaikan tuturku memanggil mereka dan memperkenalkan pula margaku serta menjelaskan ‘kerantauan’ku. Untunglah mereka maklum. Menurut mereka, di sekitar hutan itu masih sangat kaya akan kehidupan liar, seperti: harimau (yang kata mereka bermarga siregar, so juga adalah opungku.. hehehe), orangutan, babi hutan, beruang madu dan kelempiau. Tak jauh dari tempat itu, katanya ada sebuah span (tempat minum satwa), yang akan dengan mudah menjumpai beragam kehidupan lian. Pun, sebuah air terjun bertingkat tujuh yang layak untuk dikunjungi. Tapi, karena ada janji di sibolga. Berleha-leha di Marancar pun harus segera diakhiri. Bah, kerja lagi…..

Cagar alam Marancar merupakan sebuah bagian dari hutan batang toru blok barat, yang membentang diantara tarutung-sibolga-padangsidempuan dan merupakan habitat terakhir orangutan di tanah batak… hmmm…

Pagi Hari di Singkil

Maret 3, 2008 oleh amaniory

020.jpg024.jpgpagi menjelang1

Setelah berjalan cukup jauh dari Medan, melalui jalan yang berliku membelah barisan bukit barisan, akhirnya sampai juga aku di kota kelahiran seorang pemikir Islam dahulu, Abdurrauf As Singkily. Karena tiba di hari yang menjelang malam, tak ada kegiatan lain yang dapat kukerjakan, selain mencari makan dan beristirahat. Menghilangkan penat setelah lebih dari 12 jam di dalam kendaraan. Sebuah hotel kecil, di pinggir sungai Singkil menjadi tempatku bermalam. Kabarnya, saat Tsunami melanda, hotel ini terendam cukup tinggi, walaupun kini tampak sudah sangat layak diinapi.

Pagi harinya, matahari muncul dari balik hutan rawa di belakang hotel tempat berminat. Karena kawan perjalananku tertarik melihat hutan rawa di seberang sungai, pagi itu kami berperahu menyeberang. Tak banyak memang, hutan yang tersisa. Sebagian besar pohonnya sudah ditebanging sebuah HPH pada 1980 sampai 1990-an. Pepohon yang ada pun, tampak taklah sehat. Banyak pohon-pohon besar yang mati. Khabarnya akibat Tsunami yang melintasi hutan itu.

Sebuah kanal buatan HPH yang menjadi alternatif ke muara, kami susurin. Puluhan burung berhamburan lari mendengar suara motor perahu kami. Tak ingin kehilangan momen ini, mesin perahu kami matikan dan meneruskan sisa perjalanan hanya dengan mendayung. Beberapa kali perahu kami karam, akibat tak terawatnya saluran kanal. Dan sang pengemudi perahu pun harus menceburkan diri, menarik perahu ke bagian yang lebih dalam. Burung-burung pantai, mangrove, dan pepohonan kering menemani perjalanan kami sampai ke ujung kanal.

 028.jpg039.jpg041.jpg

Dahulunya, kanal ini tersambung ke laut, namun karena tak ada yang merawatnya, ia pun terputus hanya 50 meter dari pantai. Konon, saat dibeko (digali dengan menggunakan excavator) waktu pembukaannya, ditemukan ular sepanjang hampir 20 meteran di rawa ini. Lumpur di ujung kanal memang tak lah dalam, tapi lumayan juga jika terperosok ke dalamnya. Pastilah akan mengotori celana dan sepatu kita. Di balik pepohonan perdu di ujung kanal, terhampar pantai pasir putih. Pohon cemara laut memagari pantai pasir putih ini di beberapa tempat. Laut Samudera Hindia membentang di hadapan. Terkesan teduh. Pun hembusan angin yang melenakan.

Namun perjalanan harus kembali diteruskan. Kini, tiba saatnya memulai perjalanan menuju Sibolga, dengan menyusuri pantai barat Pulau Andalas…